Minggu, 22 Januari 2017

[Book Review] The Ice Twins: Si Kembar yang Tertukar?






Judul: The Ice Twins
Pengarang: S.K. Tremayne
Penerbit: HarperCollins UK
Tahun Terbit: Januari 2015
Tebal: 384 halaman (e-book)


“My dad even gave them a nickname: the Ice Twins. Because they were born on the coldest, frostiest day of the year, with ice-blue eyes and snowy-blonde hair. The nickname felt a little melancholy: so I never properly adopted it. Yet I couldn’t deny that, in some ways, the name fitted. It caught their uncanniness.”


Sarah dan Angus Moorcraft kehilangan salah satu putri kembar mereka, Lydia pada tragedi menyedihkan. Setahun setelah kejadian itu, mereka memutuskan untuk mengajak putri mereka yang selamat Kirstie (ingat ya, KIRSTIE bukan KRISTIE, karena jujur saya baru sadar setelah kelar baca bukunya xD), meninggalkan hiruk-pikuk kota London dan pindah ke pulau pribadi yang diwarisi Angus dari neneknya, Torran Island untuk memulai kembali kehidupan rumah tangga mereka dari awal.

Sudah sejak lama sebenarnya Sarah menyadari gelagat berbeda yang ditunjukkan oleh Kirstie. Ada kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan olehnya yang mengingatkan Sarah pada kebiasaan Lydia. Namun dia menganggap kalau hal tersebut hanya akibat ikatan yang tetap kuat antara saudara kembar meski salah satunya telah tiada.

Puncaknya, suatu hari Kirstie protes pada Sarah karena terus-terusan dipanggil Kirstie padahal dia adalah Lydia, dan Kirstie telah meninggal dunia. Kirstie dan Lydia memang kembar identik, susah untuk membedakan jika hanya dari tampilan. Selama ini mereka menggunakan cat kuku yang terus dipoles jika sudah mulai luntur dengan warna kuning dan biru. Atau memakaikan benda khusus pada pakaian/aksesori yang si kembar kenakan. Kuning untuk Lidya, dan biru untuk Kirstie. Secara kebetulannya, saat tragedi tersebut terjadi, si kembar mulai memaksa untuk punya style yang sama. Dan tepat di hari itu, pakaian yang mereka kenakan juga serupa.

Semenjak pernyataan Kirstie yang mengejutkan tersebut, Sarah mulai meragukan banyak hal, terutama apakah dia dan Angus telah salah mengidentifikasi putri kembar mereka sendiri? Benarkah demikian?


“Why do you keep calling me Kirstie, Mummy? Kirstie is dead. It was Kirstie that died. I’m Lydia.”


Saya pernah menyinggung soal salah satu postingan Mbak Jia Effendie tentang unreliable narrator di review The Girl on the Train yang saya tulis sebelumnya. Pada postingan di blognya tersebut Mbak Jia merekomendasikan buku ini untuk dibaca. Saya yang penasaran lalu mengajak Mbak Vina, pemilik blog orybooks.com untuk memulai project baca bareng buku ini soalnya Mbak Vina juga pencinta buku sakit seperti saya x)

The Ice Twins dibuka dengan tenang dan alur yang lambat di mana pembaca mulai diperkenalkan pada satu per satu tokohnya dan pada premis besarnya. Tensi ketegangan semakin meningkat kala pembaca sampai di bagian ketika Sarah menumpahkan kecurigaan-kecurigaannya pada peristiwa kematian Lydia, pada Kirstie yang tingkahnya semakin aneh, dan pada suaminya sendiri. Kecurigaan-kecurigaan Sarah ini cukup menyiksa saya selaku pembaca, namun hal ini malah semakin membuat saya penasaran pada kebenaran yang sebenar-benarnya.

Selain pov Sarah, terdapat juga selingan point of view ketiga yang “mengikuti” sang suami, Angus. Di bagian-bagian tertentu penggunaan pov ini saya merasakan sedikit kebosanan sih. Tapi setidaknya, saya bisa rehat sejenak dari ketularan suudzon-nya Sarah x) saya bisa lebih bisa menaruh sedikit kepercayaan saya. Errr.... agak lebay ya? .___.

Menurut saya, bagian paling seru sekaligus seram di buku ini adalah saat rasa curiga Sarah semakin menjadi-jadi sampai membuat saya ketakutan sendiri. Tapi, yang juga tak kalah seru adalah bagian menjelang ending-nya, ketika segala hal menemukan titik terang, tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Lydia dan Kristie di hari naas itu, kenapa tragedi itu bisa terjadi.

Menyebut-nyebut buku ini punya unreliable narrator agak spoiler sebenarnya, karena julukan itu bisa dibilang termasuk dalam elemen kejut yang dimiliki bukunya. Saya sadar, dari awal tokoh Sarah memang sudah mencurigakan, namun selama belum dikonfirmasi oleh penulisnya, ya, kecurigaan saya hanya berwujud sebagai dugaan-dugaan xD. Tenang, meskipun paragraf ini terkesan spoiler, saya yakin kalau kamu memutuskan untuk membaca The Ice Twins setelah ini, kamu masih akan terkejut ;)) Dan hebatnya, tahu tidak? Bahkan di bab terakhirnya saya tetap dibikin terkejut! Sialan benar! Benar-benar sialan!

5 bintang deh untuk kegilaan yang mengakibatkan adanya diskusi (agak) panjang dengan Mbak Vina setelah kami selesai membaca. Karena sungguh, banyak sekali yang harus dibahas lebih lanjut mengenai buku ini (yang tidak bisa saya bahas di review ini karena akan terlalu spoiler). Banyak sekali.


“Because the truth was too much and so my lies became truth. Even for me. Especially for me.”

 

Kamis, 12 Januari 2017

[Book Review] Yang Biasa-biasa Saja: Kisah Kehidupan Remaja Biasa di Dunia yang Tak Biasa






Judul: Yang Biasa-biasa Saja (The Rest of Us Just Live Here)
Pengarang: Patrick Ness
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Januari 2017
Tebal: 288 halaman


“Anak-anak indie saat itu, yang mungkin dijuluki hipster atau semacamnya, bertempur dan sebagian dari mereka tewas dan retakan terbentuk di tanah, melenyapkan seantero lingkungan, tapi tentu saja para Dewa dan Dewi akhirnya kalah karena kami semua masih di sini. Mereka dikirim kembali ke tempat asal mereka di mana pun itu, dan dunia, seperti biasa, melanjutkan berlagak itu tak pernah terjadi. Retakan itu dicatat akibat gempa vulkanik, dan sejarah melupakannya.”


Mike Mitchell hanyalah seoarang remaja biasa. Dia tak tergabung dalam kelompok anak-anak indie yang bertempur melawan zombie, hantu pelahap jika atau hal-hal berbahaya (sekaligus keren) lainnya. Yang diinginkannya hanya dapat datang ke acara prom sebelum akhirnya wisuda.

Masalah terbesar dalam kehidupan Mikey selain menghadapi gangguan kecemasan yang dia alami adalah mengumpulkan keberanian untuk mengajak Henna, sahabatnya untuk berkencan. 

Berawal dari kematian seorang anak indie, Mikey bersama kakak perempuannya, Mel, Henna, dan sahabat tiga perempat Yahudi seperempat dewa-nya, Jared menyadari dunia semakin lama semakin terasa tak aman. Apalagi sejak Mikey menyaksikan sekelebat cahaya biru yang menghidupkan seekor rusa mati sebelum rusa itu lari tunggang langgang seakan menghindari cahaya itu. Semenjak itu, semakin banyak anak-anak indie yang meninggal dengan sebab ganjil.

Hal buruk apa yang sebenarnya akan terjadi? Berhasilkah Mikey dan teman-temannya menjalani hidup dengan tenang sampai akhirnya mereka wisuda?


“Perasaan tak mencoba membunuhmu, bahkan yang menyakitkan. Kecemasan adalah perasaan yang berkembang terlalu besar. Perasaan yang tumbuh agresif dan berbahaya. Kau bertanggung jawab terhadap konsekuensinya, kau bertanggung jawab untuk mengobatinya. Tapi Michael, kau tak bertanggung jawab menyebabkannya. Kau tidak bersalah secara moral karenanya. Sama seperti seandainya kau memiliki tumor.”



Saya menuliskan (setidaknya paragraf) ini pukul 00.47 hari Rabu, 11 Januari 2011 tepat setelah saya menyelesaikan buku ini. Saya tak bisa menunggu lebih lama untuk menuliskan beberapa hal mengenai buku ini yang saya ingat sekarang (dan mungkin akan saya tambahkan di hari-hari selanjutnya), karena saya pikir nantinya jika semakin ditunda-tunda, ingatan saya akan bukunya tidak akan sedetail sekarang. Jadi, inilah pendapat saya tentang Yang Biasa-biasa Saja.

Saat memulai membaca buku ini, banyak pertanyaan-pertanyaan yang berkelebat di benak seperti: apa premisnya? Siapa anak-anak indie? Di mana dan kapan buku ini mengambil setting? Dan pertanyaan yang paling besar, seperti apa universe yang dibangun penulisnya di buku ini? Kenapa ada elemen-elemen fantasinya tetapi juga tokoh-tokoh di dalamnya dibuat teramat biasa saja? Karena, kamu tak akan menemukan basa-basi pengenalan tokoh, maupun dunia yang ditinggali tokoh-tokohnya. Patrick Ness membuat pembacanya harus mencari tahu sendiri apa yang ingin diketahui.

Jadi, di dalam buku ini diceritakan dua kisah berbeda yang awalnya seolah keduanya berada di dunia berbeda yaitu kisah tentang anak-anak indie yang amat sangat sedikit sebagai sebuah awal dari setiap babnya, dan tentu saja kisah Mikey dan sahabat-sahabatnya.

Buku ini memukau saya dengan semua ke-tak-biasa-an yang dimilikinya. Saya bahkan tak mampu untuk membandingkan buku ini dengan buku Patrick Ness yang pernah saya baca sebelumnya: A Monster Calls, karena keduanya secara kontras amat sangat berbeda. Dan setelah buku ini, saya sangat menantikan terjemahan Trilogi Chaos Walking yang juga akan diterbitkan segera oleh Gramedia Pustaka Utama. Akankah seunik dan seasyik A Monster Calls dan buku ini? ;)

Saya sangat menyukai covernya, terkesan biasa saja dengan pemilihan warna tak mencolok, tapi jika dilihat lebih teliti, gambar detailnya menarik, dan permainan warnanya eye catching tanpa harus menggunakan warna ngejreng.

Menurut saya sih, memang buku ini adalah jenis yang bisa saja sangat kamu sukai atau sangat tidak kamu sukai dengan segala keanehannya. Yang jelas saya sangat suka. Saya suka dengan kekompleksan karakter Mikey, saya suka dengan si keturunan dewa, Jared. Saya suka interaksi antara mereka berdua. Saya suka bagaimana buku ini diawali dengan kebersilangan antara kisah Mikey cs dan anak-anak indie, begitu pula dengan akhirnya, yang juga kedua kisahnya saling bersilangan.

Satu yang saya yakini setelah membaca buku ini, bahwa tak ada kehidupan yang biasa-biasa saja. Oh, koreksi! Bahwa bahkan dalam kehidupan yang biasa-biasa pun akan selalu ada hal yang luar biasa.


“Tidak semua orang harus menjadi Sosok Pilihan. Tidak semua orang harus menjadi sosok yang menyelamatkan dunia. Kebanyakan orang hanya harus menjalani kehidupan mereka sebaik mungkin, melakukan hal-hal yang hebat bagi mereka, memiliki teman yang hebat, berusaha membuat hidup mereka lebih baik, mencintai orang yang semestinya. Pada saat yang sama mereka juga menyadari bahwa dunia ini tak masuk akal tapi tetap saja berusaha mencari jalan untuk bahagia.”


“Segala-galanya selalu berakhir. Tapi segala-galanya juga selalu berawal.”



Sabtu, 07 Januari 2017

[Book Review] The Girl on the Train: Bagimu Dia Orang Asing, Baginya Kau Orang yang Amat Dia Kenal






Judul: The Girl on the Train
Pengarang: Paula Hawkins
Penerbit: Noura Books
Tahun Terbit: September 2015
Tebal: 440 halaman


“Mereka serasi, mereka sepadan. Mereka bahagia, aku bisa tahu itu. Mereka sepertiku dulu, mereka adalah aku dan Tom lima tahun yang lalu. Merekalah yang hilang dariku, dan aku hanya ingin menjadi mereka.”


Jalur kereta yang ditumpangi Rachel setiap hari selalu melewati rumah tempat tertinggalnya kenangan di masa lalu. Bekas rumah yang sekarang ditempati oleh mantan suami Rachel, Tom dan istri barunya Anna serta bayi mereka. Namun, bukan rumah itu yang menjadi pusat pengamatan Rachel setiap hari. Tapi rumah yang berjarak empat pintu dari sana. Rumah nomor lima belas yang dihuni sepasang suami istri dengan kehidupan bahagia dan penuh cinta, yang menurut Rachel seperti itulah kehidupan yang seharusnya dia jalani sebelum semuanya hancur lantaran dia merusak sendiri rumah tangganya akibat ketergantungannya pada alkohol. Rachel bahkan memberikan nama untuk kedua suami istri itu: Jason dan Jess.

Kebiasaan Rachel mabuk membuatnya kehilangan pekerjaan, meski begitu setiap hari dia tetap pergi ke London, menumpang kereta pagi di pukul 8.04 lalu pulang dengan kereta malam pukul 17.56. Selalu di jam sama, selalu mengamati rumah nomor lima belas itu dari jendela kereta. Rachel seolah terobsesi pada Jason dan Jess. Namun suatu ketika Rachel menyaksikan Jess bermesraan dengan laki-laki lain di rumah itu.

Beberapa hari kemudian Rachel mendengar berita hilangnya Megan, wanita yang selama ini diperhatikannya dan dia namai Jess. Rachel yakin kalau dia berhubungan dengan hilangnya Megan. Selain karena apa yang pernah dilihatnya di kereta, di malam hilangnya Megan, Rachel yang mabuk berada di kawasan perumahan itu. Tapi sayangnya dia tak mengingat kenapa dan apa yang dilakukannya di sana. 

Yang dia tahu dengan pasti adalah bahwa di pagi harinya dia mendapati luka di bagian kepalanya dengan darah yang telah mengering¸ serta memang-memar di lengannya. Apa yang sebenarnya terjadi pada Megan? Benarkah Rachel berhubungan dengan hilangnya Megan?


“Aku tidak pernah mengerti betapa orang bisa dengan entengnya mengabaikan kerusakan yang mereka timbulkan gara-gara mengikuti kata hati mereka. Siapa bilang mengikuti kata hatimu adalah sesuatu yang baik? Itu egoisme murni, keegoisan tertinggi.”


Sebelum membaca versi terjemahannya ini, sudah agak lama sejak saya membaca versi asli Bahasa Inggris buku ini lantaran penasaran dengan popularitasnya, buku ini hampir selalu seliweran di feed goodreads saya. Menurut saya tepat jika saya merekomendasikan buku ini untuk pembaca yang menyukai genre thriller terutama yang setipe dengan Gone Girl dan Before I Go To Sleep. Karena buku ini mengingatkan saya pada kedua judul tersebut (in a good way).

Setelah selesai baca versi terjemahannya satu pendapat saya yang nggak berubah: saya tetap sangat menyukai gaya bercerita penulisnya yang membuai dengan penggunaan sudut pandang orang pertama untuk tiga tokoh berbeda. Serius deh, gaya berceritanya memang bikin nggak bisa berhenti baca sampai saya waktu itu memberikan 5 bintang karena alasan tersebut.

Tapi, sekarang banyak juga poin-poin yang berubah yang membuat saya sadar berkat membaca terjemahannya ini. Pertama, saya melewatkan banyak sekali detail (tentu saja!). Dulu saya pikir penulisnya sengaja menggiring persepsi pembaca untuk menjebak mereka ke twist-nya yang shocking. Sekarang, saya menyadari kalau dari awal memang telah ada sedikit clue yang mengarah ke endingnya yang mengejutkan itu. Saya saja yang tak memperhatikan. 

Baru-baru ini saya mengetahui bahwa ada istilah yang namanya unreliable narrator lewat tulisan Mbak Jia Effendie di blognya, setelahnya saya tertarik untuk mengetahui lebih lanjut serta contoh buku-bukunya. Intinya, unreliable narrator merupakan teknik penulisan di mana kredibilitas narator pada sebuah buku dipertanyakan, tidak dapat dipercaya yang secara umum ditulis lewat sudut pandang orang pertama. Tak dapat dipercaya bisa karena tokoh tersebut memiliki masalah kesehatan/psikologis, atau karena tokoh tersebut memang senang berbohong, maupun seperti yang digunakan dalam buku ini: tokoh tersebut seorang pemabuk. Dan menurut saya penggunaan teknik tersebut di buku ini sukses, teknik inilah yang menjadi elemen penting yang tak terpisahkan dengan kesuksesan twist-nya.

Kedua, saya jadi lebih paham latar belakang karakter tokoh-tokohnya. Tokoh-tokoh di buku ini karakternya dibikin sangat kompleks, dan saya menyukai bagaimana penulisnya memberikan detail kecil terkait siapa atau apa yang melatarbelakangi karakter tertentu tokohnya.

Ketiga, dulu saya sempat skeptis bagaimana versi terjemahannya akan mentransfer atmosfer buku ini ke dalam Bahasa Indonesia. Serta penggunaan kata ganti “she/he” yang sangat berperan dalam menambah daya pikat buku ini, yang jika dialihbahasakan hanya akan menjadi “dia”. Tapi, saya pikir terjemahannya amat bagus, tetap menghadirkan rasa mencekam ke pembacanya lewat narasinya, dengan diksi yang tak kalah melenakan dari versi aslinya.

Keempat, endingnya. Entah kenapa, membaca ulang dengan bahasa yang lebih saya kuasai membuat saya terpuaskan ketika sampai ke adegan klimaksnya. Berasa lebih greget aja gitu x)

Jadi, selain (seperti yang tadi saya bilang) gaya berceritanya, berkat membaca versi terjemahan dari buku ini saya menyadari empat poin lain yang membuat saya lebih menyukainya. Saya jadi tak sabar untuk menantikan Into the Water, karya terbaru Paula Hawkins yang akan terbit di bulan Mei tahun ini. Semoga nantinya akan diterjemahkan juga.


"Aku telah kehilangan kendali atas segalanya, bahkan atas tempat-tempat di dalam benakku."


“Aku tahu, tidak ada sesuatu pun diluar sana, tidak ada sesuatu pun yang harus ditakuti, tapi itu tidak menghentikan ketakutan yang naik dari perut ke dada dan tenggorokanku. Aku berlari secepat mungkin.”




**Tulisan ini diikutkan dalam Reading Challenge - Noura Books bersama iJakarta. Tertarik untuk ikutan juga? Silakan baca info lengkapnya pada gambar di bawah ini:


Sabtu, 31 Desember 2016

[Posbar BBI] Bacaan Terbaik Tahun 2016







Tahun 2016 akan berakhir dalam beberapa jam lagi, apa kabar reading challenge yang kalian tetapkan di awal tahun? *dateng-dateng nanya reading challenge*. Di pengujung tahun ini saya mau membuat pengakuan memalukan: sebagai anggota BBI saya tak pernah satu kali pun ikutan posbar yang rutin diadakan setiap bulan! Untungnya (salah satu) tema untuk bulan ini cocok dengan tulisan memang yang sudah saya rencanakan untuk di-post di blog ini yaitu tentang buku terbaik. Saya pikir nggak ada salahnya sambil menyelam minum air. Itu alasan utama saya menulis postingan ini, alasan lainnya: saya orangnya p-e-l-u-p-a, sebagus apa pun buku itu, saya kadang lupa menyebutkannya ketika seseorang meminta rekomendasi saya, apalagi jika ditodong langsung.

Menurut data Goodreads, sejauh ini di  sepanjang 2016 saya telah membaca 79 buku. Tentu saja Goodreads 2016 Reading Challenge berhasil karena dari awal tahun saya hanya menetapkan 50 buku sebagai target. Untuk blog, yah, meski nggak rajin-rajin amat, setidaknya setiap bulan saya bikin postingan :”> dan Alhamdulillah masih ada penerbit yang mengajak bekerjasama lewat blog tour, sedikit memang namun patut disyukuri sebab buku-bukunya saya suka semua jadi semuanya berjalan dengan mulus yang lebih penting adalah saya dapat bantuin promo buku yang saya suka :)). Saya juga berhasil menahan diri saya dari godaan buku-buku baru dan diskon-diskon atau obralan buku-buku kolpri. Bisa dibilang buku yang saya baca lewat digital cukup dominan, apalagi beberapa bulan ke belakang, sejak saya mengenal SCOOP Premium. Terima kasih SCOOP! Harga subscribe-nya jangan dinaikin ya! udah pas sama kantong saya >.< 

So, daripada saya kepanjangan ngalor-ngidul, inilah buku-buku terbaik yang meninggalkan jejak spesial di benak dan hati saya tahun ini. **klik di gambar cover untuk melihat review lebih lengkap**

O – Eka Kurniawan

http://ariansyahabo.blogspot.co.id/2016/03/book-review-o-ketika-seekor-monyet.html

Sejak melihat bocoran sampulnya, saya sudah excited menantikan karya terbaru penulis favorit saya ini. Ketika ikutan pre-order, saya sama sekali tak punya ide bagaimana isi buku ini, yang saya ketahui hanya kalimat misterius “Tentang seekor monyet yang ingin menikahi kaisar dangdut” yang tertulis di bagian belakang sampulnya. Informasi tentang buku ini yang secuil dan membuat penasaran membuahkan hasil manis, saya langsung jatuh cinta setelah tahu kisah apa yang diceritakan Eka Kurniawan di buku ini. Saya suka banget, sampe pas berhasil saya selesaikan langsung saya tulis review-nya. Dan akhirnya, review tersebut menang di sayembara resensi yang diadakan oleh salah satu toko buku daring deh *nggak apa-apa kan pamer dikit? xP*. Mungkin jika banyak waktu luang, buku ini akan saya baca ulang tahun depan.


Inteligensi Embun Pagi – Dee

http://ariansyahabo.blogspot.co.id/2016/03/book-review-inteligensi-embun-pagi.html

Seperti judul yang saya berikan di postingan review buku ini, IEP merupakan buku terakhir dari serial yang masih menyisakan misteri. Pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab. Tapi seperti kata Mbak Dee sendiri: “Semua pertanyaan selalu berpasangan dengan jawaban. Untuk keduanya bertemu, yang dibutuhkan cuma waktu.” Jadi, mari tunggu saja kedatangan jawaban tersebut. Saya harap sih waktu yang dibutuhkan nggak lama-lama.


A Monster Calls (Panggilan Sang Monster) – Patrick Ness

http://ariansyahabo.blogspot.co.id/2016/03/book-review-panggilan-sang-monster-tiga.html

Sebenarnya jika mau dipikir-pikir lagi premis buku ini sederhana. Yang membuat spesial adalah penggunaan “monster”-nya, pembaca dibuai dengan fantasi dan realitas yang berkelindan. Oh, saya juga suka dengan kisah-kisah yang diceritakan oleh sang monster. Pokoknya semua elemen di buku ini melengkapi satu sama lain deh. Efek dari semuanya: bikin nyesek broh.


A untuk Amanda – Annisa Ihsani

http://ariansyahabo.blogspot.co.id/2016/04/blog-tour-dear-annisa-ihsani.html

Sampai sekarang, A untuk Amanda masih menjadi young adult karya penulis Indonesia terbaik yang pernah saya baca. Well, saya setuju dengan komentar teman-teman pembaca lain yang bilang buku ini ada sedikit kontennya yang rentan jika dibaca oleh remaja kayak saya #porepersepentin (tokoh Amanda menganut paham Agnostik), namun saya berprasangka baik pada dedek-dedek remaja, eh maksud saya teman-teman sepantaran lain pasti sudah paham mana yang menurut mereka terbaik untuk mereka sendiri kok ;) *kalau kalian bingung ketika baca ini, sama, saya juga. Intinya bukunya bagus kalau dinilai dari kedalaman premis dan keluwesan bertutur penulisnya*.


Career of Evil (Titian Kejahatan) – Robert Galbraith

http://ariansyahabo.blogspot.co.id/2016/05/book-review-titian-kejahatan-sepotong.html

Nah, ini! INI YANG PALING NGGAK BISA SAYA LUPAKAN SEPANJANG TAHUN! Kalo kata Mbak Raisa mah, “buat diriku syusah lupa”. Saya yakin yang udah baca juga pasti merasakan hal yang sama #teamkorbandigantung. Endingnya bener-bener ngegemesin, nyebelin, nyakitin deh. Mengutip Mbak Cinta “yang kamu lakukan ke saya itu, JAHAD!”. Lebih sakit daripada dijadikan sandaran keluh atau terjebak di kotak-sampah-zone. Tante Om Robert emang ratu raja tega! Awas aja kalo buku keempatnya masih belum keluar tahun depan -_- Eh, saya pamer lagi yak? Buku gantung ber-ending kampret ini membawa berkah juga lho, saya jadi dapet Ulat Sutra (The Silkworm) bertanda tangan tante om Robert deh berkat menang lomba resensi buku seri Cormoran Strike ;))


The Husband’s Secret – Liane Moriarty

http://ariansyahabo.blogspot.co.id/2016/06/book-review-husbands-secret-beberapa.html

Sebenarnya mau masukin Big Little Lies juga, tapi karena nggak enak sama penulis lain #elah, saya pilih satu yang lebih saya favoritkan deh :)) Buku-bukunya Liane Moriarty emang keren dari segi ide cerita dan penceritaan. Dalam Big Little Lies beliau bermain-main dengan satu kebohongan yang berujung fatal, sedang di The Husband’s Secret yang disuguhkan adalah sebab-akibat dalam kehidupan. Bagaimana perbuatan atau keputusan satu manusia dapat berimbas ke manusia-manusia lain, sekarang, satu jam, satu hari, satu bulan, satu tahun, atau bertahun-tahun ke depan #tsaah.


Tidak Ada New York Hari Ini – Aan Mansyur

http://ariansyahabo.blogspot.co.id/2016/05/book-review-tidak-ada-new-york-hari-ini.html

 Satu-satunya buku puisi yang masuk dalam list ini. Satu-satunya buku puisi yang pernah saya beri bintang sempurna. Really, this book worth the hype. Period.


Anak Ini Mau Mengencingi Jakarta? (Cerpen Pilihan Kompas 2015) – Ahmad Tohari dkk.

http://ariansyahabo.blogspot.co.id/2016/06/book-review-anak-ini-mau-mengencingi.html

Tahun ini dikit baca kumpulan cerpen. Tapi tetap bahagia masih menemukan yang benar-benar jadi favorit ;) kumpulan cerpen yang berwarna dari segi tema dan genre.


Gadis-Gadis Misterius (The Girls) – Emma Cline

http://ariansyahabo.blogspot.co.id/2016/08/book-review-gadis-gadis-misterius.html

Pas baca saya suka, tapi cenderung pengin cepat-cepat dikelarin. Saya sendiri tak menyangka sampai sekarang buku ini tetap membekas. Buku ini bikin saya tertarik untuk mengetahui lebih lanjut terkait Manson Cult. Sekte-sekte yang menjerumuskan ini serem ya, hanya modal kata-kata bisa memengaruhi orang sampe rela melakukan perbuatan yang merugikan sekali pun.


Tell Me Three Things – Julie Buxbaum
 
https://www.goodreads.com/book/show/25893582-tell-me-three-things


Jika selama ini premis stranger meets stranger hampir selalu membuat saya tertarik pada sebuah buku, saya menyadari satu lagi jenis buku yang ingin saya baca: buku yang tokoh di dalamnya pencinta buku! Sebenarnya buku ini juga tentang stranger meets stranger, tapi bertemunya lewat email dan chatting ;) dua elemen tersebut ditambah kisahnya yang asam-manis membuat saya rela memberi Tell Me Three Things 5 bintang.

Jurnal Jo 3: Episode Cinta – Ken Terate

https://www.goodreads.com/book/show/22454796-episode-cinta?ac=1&from_search=true

Katanya sih, ini buku terakhir seri Jurnal Jo, tapi saya masih nggak rela kalau cerita Jo berakhir di buku ini. Kalau bisa saya mau kisah Jo di SMA hingga lulus, lalu kuliah, Jo di dunia kerja, Jo menikah, Jo punya anak. Iya, saya segitu ngefansnya dengan Jo, Seli, Rajiv, dan keluarga Jo yang ajaib. Pas baca buku ini saya ngikik-ngikik nggak jelas kayak abegeh labil. Haduh, lupalagi, kan saya masih abegeh ya? Tapi nggak labil loh ya, enelan. Dear Mbak Ken, jika kamu baca ini (walaupun kayaknya nggak mungkin mbak Ken nyasar ke blog ini), saya harap Mbak Ken mempertimbangkan kembali untuk melanjutkan seri Jurnal Jo. Ditunggu buku barunya juga ya!


Raden Mandasia Si Pencuri Daging Sapi – Yusi Avianto Pareanom

http://ariansyahabo.blogspot.co.id/2016/09/book-review-raden-mandasia-si-pencuri.html

Ini.adalah.buku.Indonesia.terbaik.yang.saya.baca.tahun.ini.


Alex – Pierre Lemaitre

http://ariansyahabo.blogspot.co.id/2016/09/book-review-alex-thriller-prancis.html

Twist berlapis-lapisnya bikin saya tak kenal lelah merekomendasikan buku ini ke teman sesama pencinta buku sakit. Hahaha. Saya nggak bilang buku ini nggak cocok buat pembenci buku sakit sih, coba aja dulu ;) nggak ada salahnya kan keluar sebentar dari zona nyaman.


Matahari – Tere Liye

http://ariansyahabo.blogspot.co.id/2016/10/matahari-tere-liye.html

Serial bumi adalah satu-satunya serial bergenre fantasi asli oleh penulis Indonesia yang saya ikutin. Di buku ketiga ini petualangan ketiga tokoh utamanya semakin seru, menegangkan, dan bikin penasaran. Belum terlambat untuk mulai baca dari buku pertama: Bumi sekarang sembari menantikan kehadiran buku keempatnya, Bintang.


Buku seri kumpulan doa #Ya Tuhan – Adityayoga & Zinnia

http://ariansyahabo.blogspot.co.id/2016/11/kamu-aku-doa.html

Kumpulan doa yang menggelitik, menyindir, dan membaperkan ini saya nobatkan sebagai buku terunik tahun ini :) Gambar cover di atas adalah salah satu bukunya, terdapat 4 judul lain dengan tema berbedayang isinya nggak kalah menarik. Untuk tahu seunik apa bukunya boleh lho baca review saya, sila klik gambar cover di atas *ujung-ujungnya promo*.

Me and Earl and The Dying Girl – Jesse Andrews

http://ariansyahabo.blogspot.co.id/2016/11/aku-earl-dan-si-cewek-sekarat.html

Siapa bilang sicklit harus selalu bikin nangis? Buku ini berhasil bikin saya ngakak kejungkel. Etapi, ada bagian yang bikin mata berkaca-kaca juga sih... Tapi tetep dominan lucunya kok :)

Nah itulah tadi beberapa bacaan saya di tahun 2016 yang saya anggap sebagai terbaik. Kalau kamu? Buku apa yang menurutmu terbaik yang kamu baca tahun ini? Mari berbagi sekaligus saling memberi rekomendasi.