Minggu, 19 Juli 2015

[Book Review] Above the Stars by D. Wijaya






Judul: Above the Stars
Pengarang: D. WIjaya
Penerbit: Ice Cube
Tahun Terbit: 2015
Tebal: 248 Halaman

“Aku takut tidak bisa melihat selamanya.”

Sejak lahir, yang bisa dilihat oleh Danny Jameson hanyalah kegelapan. Ya, Danny mengalami kebutaan sejak lahir. Dia bersekolah di sekolah biasa walaupun kadang sering diganggu oleh bullies di kelasnya.

Beruntung Danny punya Mia Berry, sahabatnya sejak kanak-kanak yang sifat protektifnya menyamai kedua orangtua Danny. Lalu hadirlah murid pindahan di kelas mereka bernama Will Anderson. Berteman dengan Will membuat Danny memandang dunia dari cara yang berbeda. Dengan Will setidaknya Danny bisa merasa ‘normal’, dia punya kesempatan untuk bisa melakukan hal-hal yang dulu dianggap tidak mungkin oleh Danny lantaran keterbatasan fisiknya. Termasuk 3 keinginan yang telah dijanjikan untuk dikabulkan oleh Will.
 
Danny mulai merasakan perasaan spesial di hatinya ketika bersama dengan Will, namun sayang, sejak kejadian terkait dengan salah satu keinginan Danny, Will mendadak menghilang.

“Bagiku, ‘dulu’ adalah kata yang dipakai sebagai pengantar untuk menjelaskan bahwa sekarang keadaan sudah berubah.”

Hoje Eu Quero Voltar Sozinho atau lebih dikenal dengan judul The Way He Looks, merupakan film coming of age yang berasal dari Brazil. The Way He Looks awalnya adalah film pendek yang berjudul I Don’t Want to Go Back Alone. Walaupun ada beberapa perubahan dalam perkembangan cerita di versi panjangnya, secara garis besar The Way He Looks tidak melenceng jauh dari film pendeknya. 

Bercerita tentang seorang remaja yang buta sejak lahir, Leonardo, yang hidupnya berubah sejak mengenal siswa pindahan di kelasnya Gabriel, The Way He Looks sukses menyentuh saya dengan kemanisan ceritanya. 

Kenapa saya menulis tentang film tersebut di awal review ini? Karena sinopsis buku ini tidak bisa dimungkiri mengingatkan saya pada film itu, pun begitu ketika saya membaca di bagian-bagian awal. Dan by the way, penulisnya sendiri sudah mengonfirmasi kalau dia belum menonton film asal Brazil itu dan kaget dengan kemiripan keduanya.

Bahkan kalaupun terinspirasi dari film tersebut juga tidak masalah sih karena beberapa karya dari Tere Liye, salah satu penulis favorit saya, ada juga yang terinspirasi dari film/buku. Seperti Moga Bunda Disayang Allah (dari film Bollywood “Black”, yang keduanya sama-sama terinspirasi dari kisah hidup Helen Keller), Ayahku (bukan) Pembohong (dari buku “Big Fish”. Saya belum baca bukunya sih, baru nonton filmnya doang). Plus ada satu adegan dalam Rembulan Tenggelam di Wajahmu yang mengingatkan saya pada salah satu scene film Bollywood “Mohabbatein”.

Tapi cukup membahas kemiripan-kemiripannya, selanjutnya saya hanya akan membahas apa yang saya suka dan apa yang menurut saya agak mengganggu ketika membaca Above the Stars. 

Pas pertama kali baca sedikit tidak menyangka sih kalau setting dan karakter buku ini bukan asli Indonesia, yang artinya buku ini diceritakan dengan cita rasa terjemahan tapi kadang masih berasa ke-Indonesia-an.

Saya salut dengan penulis yang mengangkat isu LGBT untuk novel remaja. Saya juga punya draft (novel) young adult bertema LGBT yang terendap dari bertahun-tahun lalu dan tetap mentok di bab awal di folder komputer saya (*nggak ada yang nanya), dan baca buku ini sukses bikin saya iri sama penulisnya x))

Above the Stars saya nilai cukup lumayan sebagai novel debut sang penulis, dan saya pasti akan membaca buku dari D selanjutnya. Tapi di balik kelebihannya, ada hal yang cukup mengganggu, beberapa detail hal-hal remeh yang menjadi pendukung cerita seolah terlupakan. Padahal hal-hal remeh ini juga penting untuk membangun cerita yang utuh. 

Seperti, kening saya berkerut ketika membaca bagian Will dan Danny membolos dan mengganti seragam mereka. Saya tidak tahu dengan pasti, tapi apakah sekolah-sekolah di Amerika juga masih memakai seragam? Bukannya pakaiannya bebas yak, malah bisa fashionable kayak siswa-siswi Rosewood (dari Pretty Little Liars). Dan tidak ada kejelasan juga apakah sekolah mereka public school atau private school

Selanjutnya, juga masalah sistem sekolah misterius ini. Masa membolos sehari aja langsung dipanggil ke “ruang BP” sik? Apalagi mereka kan es em a, wajarlah sekali-kali bolos xD. Perhatian sekali ya, sekolahnya sampe murid membolos sekali udah dikepoin. Nggak penting sih, tapi tetap saja saya tidak bisa menghilangkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak saya.

Lalu, Bagian sisipan penting-nggak-penting soal “daftar pertanyaan yang mungkin ingin kalian tanyakan pada Danny”, “awal mula Mia bersahabat dengan Danny”, “hubungan buruk Will dan ayahnya”, sebenarnya bisa diselipkan di sepanjang cerita saja. Apalagi dengan sudut pandang orang ketiga yang sudah mendukung. Kalau dibuat terpisah seperti itu kesannya terlalu maksa untuk diceritakan.

Terakhir, penulis sering sekali menggunakan sebutan nama (misal: Mrs. Jameson, Mr. Jameson) di narasinya. Memang kadang juga kata ganti “ibunya” dan “ayahnya” juga dipakai sih, tapi sebutan nama ini sering mendominasi. Tidak cuma sekali saya salah mengenali Mr. Anderson sebagai Mr. Jameson.

Seperti seri YARN yang saya baca sebelumnya, Perfection, Above the Stars jelas tidak sempurna. Terlepas dari kemiripan atau kekurangan atau endingnya yang ketebak (dan saya kurang suka), buku ini layak dibaca untuk mengisi libur lebaranmu :))

“Aku benci menjadi buta! Aku benci terus-menerus diberi tahu mana yang bisa dan tidak bisa aku lakukan karena aku buta! Aku benci dicemaskan sepanjang waktu karena aku buta!”


RATING 3/5

p.s.: Nih saya kasih bonus, There’s too Much Love-nya Belle & Sebastian :D Selamat melanjutkan libur lebaran! Semoga kita semua dijauhkan dari segala dampak buruk makanan bersantan x))




I could hang about and burn my fingers
I've been hanging out here waiting for something to start
You think I'm faultless to a 't'
My manner set impeccably
But underneath I am the same as you

I could dance all night like I'm a soul boy
But you know I'd rather drag myself across the dance floor
I feel like dancing on my own
Where no one knows me, and where I
Can cause offence just by the way I look


2 komentar:

  1. Hmmm..... *makin kepo sama buku ini*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo segera dibaca mbak, sebelum kekepoannya ilang x))

      Hapus