Rabu, 11 Mei 2016

[Book Review] Always the Bride: Tak Ada Kehidupan yang Sempurna, Terutama Kehidupan Pernikahan






Judul: Always the Bride: Pengantin Baru (Lagi)
Pengarang: Jessica Fox
Penerbit: Esensi
Tahun Terbit: 2016
Tebal: 240 halaman

“Aku hanya akan menikah satu kali. Aku benar-benar percaya bahwa pernikahan adalah untuk seumur hidup. Kau sendiri yang mengatakannya, kan?”

Alih-alih penari striptis, kejutan yang didapat oleh Zoe di acara pesta lajangnya adalah seorang cenayang. Zoe senang tidak kedatangan penari striptis. Tapi... belakangan dia menyesali apa yang terjadi di malam itu. Lebih tepatnya, apa yang diramalkan oleh Angela sang cenayang. Bagaimana tidak? Dia diramalkan akan menikah dua kali! 

Padahal Zoe yang perfeksionis menganggap kalau Steve, suaminya adalah orang yang sempurna untuknya. Mereka bisa melengkapi satu sama lain. Maka, sangat tak mungkin kalau apa yang diramalkan oleh cenayang tersebut akan menjadi kenyataan.

Sampai kemudian Zoe sadar kalau kehidupan pernikahannya terancam. Jadi, Zoe terlibat dalam produksi film BBC sebagai penulis skrip, dan Steve adalah sutradaranya. Karena suatu hal, pemeran utama prianya diganti dengan Luke Scottman, aktor seksi pujaan hampir semua wanita di dunia. Parahnya, Luke pernah menjadi kesalahan di masa lalu Zoe. Nah lho!

Dan, tanpa diduga, Steve yang manis dan mudah ditebak, ternyata juga menyimpan masa lalu yang akan semakin mengancam pernikahan mereka. Akankah ramalan si cenayang menjadi kenyataan?

“Semua hal harus sempurna bagimu. Sama sekali tidak ada toleransi untuk kesalahan atau kekhilafan alami manusia dalam duniamu. Benar begitu, bukan?”

Buku ini punya formula klise yang khas chicklit banget. Mulai dari konfliknya yang drama, dengan tokoh utama wanita tangguh, dan tak ketinggalan, seorang tokoh pria seksi. Saya jadi rindu untuk membaca lagi chicklit terjemahan setelah membaca Always the Bride ini. Meski premisnya klise, menurut saya cukup menarik. Prolognya sudah menyimpan misteri yang menanti untuk diungkap.

Hal yang saya suka dari buku ini adalah tokoh-tokohnya yang menonjol. Karakterisasinya keren. Saya sampai benci setengah mati dengan Rufus -_- dan tokoh terfavorit saya adalah Libby, adik Zoe.

Tapi, tentu saja buku ini setaksempurna kehidupan pernikahan Zoe. Ceritanya memang ringan, khas chicklit banget. Dan agak berputar-putar. Konfliknya juga terlalu drama buat saya. Masalah selera sih :D soalnya dari awal saya pikir akan semanis Bridget Si Ratu Sekolah ^^,

Hal yang saya pelajari dari membaca dua buku terbitan Esensi. Kelebihannya, cover-covernya cantik-cantik. Terjemahannya juga enak. Tapi di sisi lain ukuran font-nya sedikit terlalu kecil. Dan tak dilengkapi dengan bookmark. Bookmark memang terkesan remeh, tapi tetap rasanya ada yang kurang tanpa kehadiran bookmark yang matching dengan cover bukunya :D

Menurut saya sih, buku ini sendiri dari segi ceritanya diselamatkan oleh endingnya. Saya sendiri meskipun tak menyangka akhirnya akan seperti itu, saya cukup suka dengan bagaimana cara penulisnya menutup kisah Zoe sampai Epilog. Cocok dengan ide besar yang dari awal coba untuk disampaikannya. Bahwa tak ada kehidupan yang benar-benar sempurna.

“Kepercayaan adalah sesuatu yang harus kau miliki dalam pernikahan.”




Tidak ada komentar:

Poskan Komentar