Jumat, 13 Mei 2016

[Book Review] Hujan: Antara Melupakan, Penerimaan, dan Kebahagiaan






Judul: Hujan
Pengarang: Tere Liye
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: April 2016 (cetakan keempatbelas)
Tebal: 320 halaman

Tentang Persahabatan
Tentang Cinta
Tentang Perpisahan
Tentang Melupakan
Tentang Hujan

Ternyata, sebelum Eka Kurniawan, bukunya Tere Liye sudah duluan menggunakan hanya beberapa kalimat di cover belakangnya, tanpa sinopsis bagaimana isi bukunya. Kisah buku ini simpel sekaligus kompleks untuk diceritakan, makanya agak susah sebenarnya memberikan gambaran singkat mengenainya. Tapi akan saya coba :D

Di tahun 2042, terjadi gempa bumi maha dahsyat yang merenggut lebih dari separuh populasi manusia di bumi. Lail merupakan salah satu dari penduduk bumi yang selamat. Saat itu Lail baru  berusia tiga belas tahun, dan dia harus merasakan kehilangan segalanya.

Beruntung dia mengenal Esok akibat bencana alam tersebut. Esok lebih tua beberapa tahun dari Lail, dialah yang selama mereka tinggal di tenda pengungsian, yang mengembalikan semangat hidup Lail, bahkan meski Esok sendiri kehilangan keluarganya, kecuali ibunya yang kedua kakinya harus diamputasi akibat tertimpa benda berat ketika gempa terjadi.

Singkat cerita, kota tempat mereka tinggal mulai pulih, Esok yang genius diangkat anak oleh orang kaya yang berjanji akan menyekolahkannya dan merawat ibunya. Sedangkan Lail, bersama anak-anak lain tinggal di asrama yang dibangun oleh pemerintah. Di sana dia kemudian berkenalan dengan anak perempuan yang kelak akan menjadi sahabat sejatinya, Maryam.

Banyak hal terjadi pasca bencana alam tersebut, namun kehidupan masih tetap berlanjut. Terpisah oleh jarak dan kesibukan masing-masing, Lail dan Esok yang beranjak dewasa semakin jarang bertemu, paling sering satu tahun sekali. Namun perasaan spesial kepada Esok semakin berkembang tanpa Lail sadari. 

Buku ini sendiri dibuka dengan adegan di sebuah ruangan berteknologi mutakhir. Di sana Lail yang telah berumur dua puluh satu tahun bermaksud untuk menghapus memorinya tentang hujan. Lalu, mengapa Lail malah ingin melakukannya? Padahal selama ini Lail menyukai hujan karena hujan menjadi penanda banyak peristiwa penting yang dialaminya sejak kecil. Dan apa pula hubungan keputusan Lail itu dengan Esok?

“Kenangan sama seperti hujan. Ketika dia datang, kita tidak bisa menghentikannya. Bagaimana kita akan menghentikan tetes air yang turun dari langit? Hanya bisa ditunggu, hingga selesai dengan sendirinya.”

Memang benar nyatanya, selera orang bisa berubah. Kalau buku ini saya baca beberapa tahun sebelumnya, saya yakin akan amat terkesan. Sayangnya, ketika timbul ketertarikan pada buku ini sejak pertama terbit, saya pikir kisahnya akan sederhana. Maksud saya yang settingnya di masa sekarang, dan sesuai dengan apa yang sedang terjadi sekarang, misalnya saja seperti Kau, Aku, dan Sepucuk Angpau Merah. Salah saya sendiri sih tidak membaca review-review, atau setidaknya mencari tahu terlebih dahulu seperti apa ide cerita bukunya.

Dan sedikit kekecewaan lantaran settingnya yang futuristik bertambah dengan, entah apa istilah yang tepat, pembangunan dunia yang menjadi settingnya(?). Penulisnya gagal untuk meyakinkan saya dalam hal membangun dunia sendiri (masa depan) sebagai setting cerita buku ini. Saya merasa ada yang janggal. Sama seperti yang saya rasakan ketika membaca novelnya yang berjudul Bumi.

Selanjutnya, gaya penceritaan dan diksinya sih, memang Tere Liye banget. Tapi kok dialog-dialognya berasa awkward ya? Agak kaku gitu, apalagi kalau diucapkan keras-keras. Malah narasi sudut pandang orang ketiganya lebih luwes dibanding dialognya sendiri. Ini lagi-lagi menurut saya lho ya! x)

Satu lagi deh, sekalian nambahin yang kurang, dikit banget kalimat qoute-able-nya! Padahal kalimat-kalimat quote-able yang #jleb adalah salah satu yang selalu saya tunggu-tunggu setiap membaca buku-bukunya Tere Liye *lumayan, kan, bisa di-upload ke medsos xP*.

Akan tetapi... meski timbul beberapa ke-nggak-sreg-an ketika membacanya, saya masih lumayan suka kok dengan buku ini. Seperti membaca buku-buku Tere Liye lainnya, saya kembali mendapat banyak pengetahuan baru setelah membaca ini. Dengan kata lain, Hujan tetap punya elemen bergizinya. Dan sekarang saya jadi mengerti kenapa selama ini saya masih susah move on. Sebab alih-alih menerima, yang saya lakukan adalah (berusaha) melupakan. Padahal seharusnya yang saya lakukan adalah belajar menerima. Mengutip dari buku ini: “...bukan melupakan yang jadi masalahnya. Tapi menerima. Barangsiapa yang bisa menerima, maka dia akan bisa melupakan. Tapi jika dia tidak bisa menerima, dia tidak akan pernah bisa melupakan.”. Tolong jangan baper! x))


“Bagian terbaik dari jatuh cinta adalah perasaan itu sendiri. Kamu pernah merasakan rasa sukanya, sesuatu yang sulit dilukiskan kuas sang pelukis, sulit disulam menjadi puisi oleh pujangga, tidak bisa dijelaskan oleh mesin paling canggih sekalipun. Bagian terbaik dari jatuh cinta bukan tentang memiliki. Jadi, kenapa kamu sakit hati setelahnya? Kecewa? Marah? Benci? Cemburu? Jangan-jangan karena kamu tidak pernah paham betapa indahya jatuh cinta.”






Tidak ada komentar:

Poskan Komentar