Sabtu, 11 Juni 2016

[Book Review] The Husband’s Secret: Beberapa Rahasia Memang Ditakdirkan untuk Selamanya Menjadi Rahasia





Judul: The Husband’s Secret
Pengarang: Liane Moriarty
Penerbit: Pan Macmillan Australia (ebook)
Tahun Terbit: 2013
Tebal: 416 halaman

For my wife, Cecilia Fitzpatrick
To be opened only in the event of my death

Cecilia tak sengaja menemukan surat bertuliskan kalimat tersebut di amplopnya ketika dia sedang mencari potongan reruntuhan Tembok Berlin di loteng rumah mereka. Surat yang ditujukan untuknya, dari suaminya, dan kalau melihat dari keadaan amplopnya, surat tersebut ditulis sudah lama. Mungkin beberapa tahun yang lalu?

Siapa yang tidak penasaran dengan isinya setelah membaca apa yang tertulis di amplop itu? Cecilia mati-matian berusaha mengenyahkan rasa penasarannya. Apa yang mungkin ditulis oleh John-Paul, suaminya? Sebuah pengakuan tentang hubungan gelap? Sebuah rahasia? Cecilia masih menahan diri untuk membukanya, dia masih mencoba menghargai privasi suaminya. Apalagi ketika dia menelepon John-Paul, suaminya itu memintanya untuk tidak membuka amplop itu dan mengatakan kalau surat tersebut hanya berisi suatu hal bodoh yang akan membuatnya malu.

Tapi, semakin menahan diri, otak Cecilia mulai berpikiran yang macam-macam. Dia tak sadar kalau ketika dia memutuskan untuk membaca surat tersebut, hidupnya, dan hidup orang-orang di sekitarnya, tak akan lagi sama.

“Did one act define who you were forever?”

Seperti yang saya ceritakan di sinopsis singkat di atas, kisah buku ini berfokus ke kehidupan pernikahan Cecilia Fitzpatrick yang berubah sejak dia membuka surat misterius tersebut. Tapi, tentu saja bukan Liane Moriarty namanya kalau ceritanya cukup sampai di situ. Seperti juga Big Little Lies, karya lain dari penulisnya yang pernah saya baca, fokus penceritaan The Husband’s Secret juga terpecah. Yaitu selain Cecilia, ada cerita tentang Tess yang memutuskan untuk pergi dari rumah dan kembali ke kampung halamannya di Sidney setelah mendengar pengakuan tentang affair suaminya dan Felicity, sepupu yang sudah dianggap sebagai saudara kandungnya sendiri. Dan ada Rachel, seorang ibu yang kehilangan anak perempuannya dengan cara yang kejam. Ketiga wanita ini tanpa mereka sadari ternyata berkaitan satu sama lain.

Jika boleh membandingkan, Big Little Lies dan The Husband’s Secret adalah jenis buku yang memberikan kenikmatan berbeda bagi pembacanya. Jika ketika membaca Big Little Lies saya sudah dari sejak awal kepincut dengan keceriwisannya, lain halnya dengan The Husband’s Secret. Menurut saya ini adalah jenis buku yang mengharuskan pembacanya bersabar terlebih dahulu sebelum menemukan bagian yang memukau. Di bagian ketika saya sudah mengetahui isi dari surat John-Paul, saya akui memang agak membosankan. Saya melanjutkan membaca hanya karena ingin tahu endingnya akan seperti apa. Tapi ternyata, BOOM! Ketika sampai di adegan klimaks buku ini, pandangan saya terhadapnya langsung berubah. Saya terpesona dengan bagaimana karakter-karakternya menjadi sebab-akibat dari adegan klimaks tersebut.

Selain adegan klimaksnya, bagian terbaik dari buku ini tentu saja epilognya. Saya suka sekali dengan epilognya yang membeberkan beberapa rahasia. Saya juga menyukai konsistensi keterkaian ceritanya dengan Tembok Berlin. Dan jangan lupakan analogi Pandora-nya. 

The Husband’s Secret merupakan salah satu bacaan terbaik tahun ini. Saya lega sudah memaksakan diri saya untuk membaca bukunya sampai selesai. Untuk yang penasaran, kabarnya sebentar lagi terjemahannya akan diterbitkan oleh GPU, saya juga jadi kepingin punya nih x) tapi sudah banyak sekali buku incaran yang mau terbit, Sharp Objects, TAOL... -_-

“’Did you know that some people wish the Berlin Wall never come down?’ said Esther. ‘That’s weird, isn’t it? Why would you want to be stuck behind a wall?”

“None of us ever know all the possible courses our lives could have, and maybe should have, taken. It’s probably just as well. Some secrets are meant to stay secret forever. Just ask Pandora.”



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar