Jumat, 23 September 2016

[Book Review] Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi: Dongeng Kontemporer tentang Dendam Kesumat, Upaya Penyelamatan Kerajaan, dan Daging Sapi






Judul: Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi
Pengarang: Yusi Avianto Pareanom
Penerbit: Banana
Tahun Terbit: Maret 2016
Tebal: 450 halaman

“Kemenangan terhebat dalam pertempuran justru ketika kita tak perlu mengangkat senjata. Masih ada lagi: tak ada senjata yang lebih tajam ketimbang akal, tak ada perisai yang lebih ampuh ketimbang nyali, dan tak ada siasat yang lebih unggul ketimbang hati.”

Sungu Lembu menyimpan dendam kesumat pada Raja Gilingwesi, Watugunung. Kebetulan, di dalam perjalanan menuntaskan dendamnya itu, dia bertemu dengan Raden Mandasia yang tak lain adalah salah satu pangeran Kerajaan Gilingwesi.

Raden Mandasia sedang dalam perjalanan menuju Kerajaan Gerbang Agung. Dia sengaja melepaskan kehidupannya sebagai pangeran dan melakukan perjalanan ini demi rencananya untuk menyelamatkan Gilingwesi yang terancam.

Karena terikat janji pada seseorang yang dikasihinya ditambah dengan pertimbangan bahwa Raden Mandasia adalah jalannya untuk memenggal kepala Watugunung, Sungu Lembu bersedia menjadi teman perjalanan Raden Mandasia.

Yang tak Sungu Lembu ketahui, perjalanannya bersama Raden Mandasia yang punya kebiasaan unik terkait daging sapi itu perlahan membuatnya lupa pada dendamnya sendiri. Perjalanan menakjubkan mengarungi lautan, gurun pasir, berusaha menemui Putri Tabassum yang kecantikannya melegenda, hingga akhirnya terlibat dengan pertempuran dahsyat antara dua kerajaan hebat. Akankah Sungu Lembu berhasil membalaskan dendamnya? Atau dia malah memutuskan untuk melupakan dendamnya ketika melihat segalanya di sisi yang berbeda?

“Ia bertanya apakah aku orang yang berbahagia. Saat itu, aku menyeringai menganggap pertanyaannya terlalu keperempuan-perempuanan. Mana aku tahu soal kebahagiaan? Setelah menyaksikan wajah dua manusia unggulan di depanku berubah hijau, rasanya aku berani mengubah pendapatku: aku manusia yang berbahagia. Setidaknya hari itu.”

Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi adalah dongeng dewasa yang kisah petualangan di dalamnya asyik untuk diikuti dengan setting kuat, world building megah, pelintiran kisah yang mengejutkan, dan deskripsi sempurna (terutama deskripsi tentang makanan, sukses bikin ngiler!)

Alasan mengapa saya menyebutkan dongeng dewasa tadi adalah tak lain karena buku ini memang diberi label dewasa. Jadi, yang masih di bawah umur sebaiknya jangan dulu baca ya x) tak hanya banyak kata-kata makian di dalamnya (terutama “anjing!”) tapi ada beberapa adegan vulgar yang belum pantas untuk dedek-dedek baca xP

Jika kali pertama mendengar judulnya saya kira tokoh utama buku ini adalah Raden Mandasia. Makanya di awal saya bingung kenapa diceritakan dengan sudut pandang orang pertama lewat Sungu Lembu. Ternyata, tokoh utama buku ini memang Sungu Lembu, dan memang hampir seisi buku menceritakan perjalanannya dengan Raden Mandasia.

Dua hal yang langsung menarik perhatian dari buku ini adalah alur penceritaannya, dan tokoh-tokohnya yang berjibun. Alur penceritaannya menggunakan alur maju-mundur, banyak flashback-nya terutama ketika Sungu Lembu menceritakan kembali apa yang diceritakan oleh seorang tokoh padanya.

Tak hanya kisah utama, tapi kisah-kisah sampingannya juga menarik. Dikarenakan tokohnya yang berjibun, tokoh-tokoh pendukung ini berebut untuk membagi kisah mereka masing-masing, semuanya amat menarik. Yang menjadi favorit saya adalah kisah hidup Loki Tua dan legenda Putri Tabassum beserta teka-tekinya.

Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi adalah jenis buku yang sengaja saya baca lambat-lambat agar tak cepat selesai. Jarang sekali saya menemukan buku yang seperti ini. Seringnya malah buku-buku yang ingin cepat saya selesaikan, entah itu karena penasaran dengan endingnya, atau karena bosan dan tidak tahan lagi untuk segera move on ke buku selanjutnya.

Memang saya belum membaca semua buku yang masuk nominasi Kusala Sastra Khatulistiwa ke-16 kategori prosa, beberapa yang sudah saya baca ada O, Di Tanah Lada, dan Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi ini. Dan saya jelas menjagokan buku ini. Iya, buku ini memang sebagus itu hingga saya lebih memilih menjagokannya ketimbang bukunya Mas Eka Kurniawan x))

Oh, omong-omong saya cuma iseng nambahin “daging sapi” di judul review ini. Sebagai pemanis gitu. Karena peran “daging sapi” di buku ini juga untuk mempermanis dan menerbitkan air liur pembacanya. Bukan hanya daging sapi sih, tapi semua makanan di dalam buku ini dideskripsikan sedemikian rupa sehingga membuat saya yang membacanya jadi ngiler.  

Jika kamu bosan dengan buku-buku mainstream, sedang mencari buku yang beda dari lainnya, maka Raden Mandasia si Pencuri Daging Sapi adalah jawabannya. Membaca buku ini membuat saya ingat pada kegemaran saya membaca dongeng-dongeng nusantara pas SD dulu, entah kapan lagi saya akan menemukan buku seunik dan seelok ini.

“Banyak orang paham memulai perang, tapi tak pernah benar-benar paham bagaimana mengakhirinya.”




2 komentar:

  1. Lagi baca buku ini dan setuju banget, enggak pengin cepet-cepet selesai karena rasanya seru banget ngikutin petualangannya Sungu Lembu dan Raden Mandasia. Dan yes, habis baca deskripsinya Sungu soal daging sapi diolah begini-begitu, jadi ngiler pengin makan daging sapi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, di bagian awal yang ngebahas jenis daging pada sapi sampe hampir dua halaman itu bikin ngiler parah x))

      Hapus